A.      Pendahuluan

Pentingnya Profesi Wirausaha di Indonesia, sudah menjadi topik yang sangat penting di Indonesia. Karena pemerintah sangat mendorong masyarakatnya untuk berwirusaha. Kenapa penting ? karena besarnya peran wirausaha dalam membantu sektor perekonomian di Indonesia.

B.      Mengapa Masyarakat Butuh Wirausaha?
1.                   Untuk mendayagunakan faktor-faktor memproduksi seperti tanah, modal, teknologi, informasi dan berbagai sumber daya manusia (SDM) di dalam memproduksi tugas-tugas yang efektif (producing effective tasks).
2.    Mengidentifikasi berbagai peluang di dalam lingkungan dengan meningkatkan n aktivitas yang akan memberikan manfaat kepada setiap orang (beneficial to everyone).

3.    Untuk memilih pendekatan yang terbaik dalam mendayagunakan semua faktor produksi agar supaya meminimalkan pemborosan di dalam berbagai kegiatan kewirausahaan (minimize wastage in entrepreneurial activities).

4.    Untuk kemanfaatan generasi mendatang (benefit of the future generation).


1.       Wirausaha


Wirausaha atau entrepreneur yang berasal dari kata bahasa Perancis entreprendre yang berarti melakukan (to undertake) atau mencoba (trying). Dalam bahasa Indonesia yang sederhana wirausaha dapat dimaknai sebagai
sebuah kemampuan (an ability) yang di dalamnya termasuk dalam artian ‘usaha’ (effort), aktivitas, aksi, tindakan dan lain sebagainya untuk menyelesaikan suatu tugas (task). wirausaha adalah seseorang yang siap untuk mengambil risiko-risiko dan dia berbeda dari orang-orang yang mensuplai modal dengan harapan sebuah keuntungan yang tetap.
Perbedaan antara seorang wirausaha dan non-wirausaha adalah terletak pada kesiapannya (preparedness) untuk mengkombinasikan berbagai kreativitasnya, inovasi, pengambilan risiko (risk-taking), dan komitmen untuk menciptakan, mengembangkan dan memaksimalisasi potensi diri dengan mendayagunakan peluang-peluang yang ada.



Dari diskusi tentang peran yang dimainkan oleh wirausaha seperti tersebut di atas memperlihatkan kepada kita bahwa wirausaha dibutuhkan di diinginkan kehadirannya di dalam proses pembangunan masyarakat – bangsa pada umumnya dan pada khususnya untuk meningkatkan kemakmuran individu lewat peningkatan daya belinya,
a.       Karakteristik seorang Wirausaha

Perubahan dan pemanfaatan ini dapat dilakukan berkat bebarapa hal penting yang menjadi karakteristik seorang wirausaha (Z.Heflin Frinces, 2004 dan 2008) seperti antara lain:

a.       Kreatif.

b.       Inovatif.

c.       Berani mengambil risiko.

d.       Mau melakukan perubahan,

e.       Cekatan.

f.        Berproduksi secara efisien, efektif dan produktif.

g.       Cepat dan tepat dalam membuat keputusan dan melakukan tindakan.

h.       Kemampuan menghitung secara cepat dan tepat kemungkinan yang menguntungkan terhadap akan dieksploitasinya potensi, sumber daya dan peluang yang ada.

Beberapa karakteristik yang digambarkan di atas sekaligus merupakan elemen penting dari kualitas diri seorang wirausaha.
seorang wirausaha.

b.       Profesi sebagai wirausaha

Dengan demikian berprofesi sebagai wirausaha merefleksikan secara tegas bahwa yang bersangkutan telah memiliki:
a.       Pilihan hidup professional utamanya adalah menjadi seorang wirausaha.

b.       Pengembangan karir dan kepribadian serta karakteristik dirinya adalah sebagai seorang wirausaha.

c.       Semangat juang dan keberaniannya untuk maju, tumbuh dan berkembang dalam berkarya dan berprestasi merupakan cerminan diri seorang wirausaha.
d.       Adanya obsesi yang kuat untuk menjadikan diri dan kehidupannya untuk dapat mendiri secara penuh.
e.       Adanya keyakinan dan kepastian bahwa dengan menjadi wirausaha perubahan yang lebih dari kondisi yang ada sekarang ini hanya dapat dilakukan dengan berprofesi secara professional sebagai wirausaha.

Dalam perspektif pembangunan ekonomi nasional dan pengembangan karir

individual bahwa kemajuan suatu masyarakat dan bangsa terakselerasi dengan baik dengan banyaknya jumlah dan peran yang dimainkan oleh keberadaan wirausaha di dalam Negara tersebut.
Pengalaman daerah dan Negara-negara yang telah maju memperlihatkan bahwa kreativitas berkembang begitu dahsyat. Hal banyak didukung oleh tingginya kondisi atau kadar demokrasi dan kebebasan (democracy and freedom) di Negara yang bersangkutan. Kondisi atau kadar tersebut telah:

a.    Mengantar dan mendorong daerah dan Negara tersebut terjadinya pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang luas.
b.       Menyuburkan kehidupan inovasi secara luas dalam banyak aspek kehidupan.

c.       Turut membantu pembukaan jalan kepada kemakmuran yang lebih merata di

tengah masyarakat.

Oleh karena itu profesi sebagai seorang wirausaha di sini dimaknai sebagai seorang pengusaha.
c.       Kontribusi wirausaha

Di antara sekian banyak kontribusi wirausaha tersebut adalah fungsinya (Z. Heflin Frinces, 2004) sebagai:
a.   Penciptaan lapangan usaha.

b.   Penciptaan lapangan kerja.

c.    Salah satu penggerak utama dan terpenting kegiatan ekonomi.

d.   Pembayar pajak terbanyak dan terbesar Negara.

e.   Pendorong dan pelaku perubahan dan inovasi.

f.     Pencipta keunggulan dan daya saing.

g.   Pembuat harapan rakyat untuk hidup baik dan makmur.

h.   Pencipta dan pendorong kemandirian individu dan bangsa.

Untuk dapat menciptakan profesi wirausaha yang terhormat, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan sebagai berikut:
a.       Munculkan tekad, komitmen total dan semangat yang tinggi untuk hidup sebagai wirausaha.

b.       Curahkan potensi diri untuk hidup dan berkarya serta berprestasi sebagai wirausaha.
c.       Jadilah seorang wirausaha dengan terencana (by design) dan dengan kegiatan yang terencana (planned activities) pula.
d.       Jadilah hidup bermartabat dengan memberikan manfaat dan kebaikan pada dirinya dan kepada orang lain.

Mencetak manusia pada umumnya agar dapat menjadi wirausaha yaitu pelaku-

pelaku bisnis dalam artian yang sebenarnya adalah sesuatu yang mendapatkan perhatian luas para pengambil kebijakan public (pemerintah), pelaku bisnis dan masyarakat serta para akademisi. Pembicaraan dan diskusi tentang ini topik ini sudah lama dilakukan secara sistematik sejak abad ke 17. Tetapi dalam perspektif sejarah Islam kegiatan kewirausahaan telah dilakukan sejak pada masa Nabi Adam (Yusof, Perumal dan Pangil, 2005). Dua anak Nabi Adam, Habil dan Qobil, di mana Habil ditugaskan untuk bertanggung jawab untuk mengembangkan seektor pertanian dan Qobil bertanggung jawab untuk mengembangkan sektor peternakan (kehewanan). Sejarah Islam juga mencatat bahwa sebagian terbesar dari para nabi (termasuk Nabi Muhammad saw) terlibat dalam kegiatan kewirausahaan pada tingkat domestik dan internasional.
. Tetapi dapat disimpulkan atas dua proses sbb:

1.    Proses alamiah karena keturunan dan lingkungan.

Pada butir ini seseorang menjadi seorang wirausaha karena dua hal yang antara satu dengan yang lain bisa terkait artinya saling melengkapi dan dapat terjadi secara terpisah sebagai berikut:

a.          Keturunan atau keluarga pebisnis:

Seorang calon wirausaha di mana yang bersangkutan memang memiliki keturunan dari orang tuanya dan / atau orang tua mereka sebelumnya yang secara alamiah memiliki keturunan seorang atau keluarga orang-orang pebisnis atau wirausaha. Dalam konteks ini proses menjadi wirausaha karena ada faktor genetika yang turun temurun dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya.

b.         Lingkungan dan budaya masyarakat dan bangsa:

Seorang calon wirausaha di mana yang bersangkutan di samping memang memiliki keturunan dari orang tuanya dan / atau orang tua mereka sebelumnya yang secara alamiah memiliki keturunan seorang atau keluarga orang-orang pebisnis atau wirausaha, yang bersangkutan berada di dalam suatu masyarakat atau Negara yang sebagaian kehidupan masyarakatnya adalah pebinis, para wirausaha seperti di Hongkong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura dan bebarapa Negara Eropah dan Amerika Serikat.
2. Proses rekayasa semata.

Bagi yang sama sekali tidak memiliki keturunan dan genetika keturunan wirausaha, maka proses menjadi lebih sulit dibanding dengan yang digambarkan di atas. Untuk kondisi proses rekayasa menjadi wirausaha, maka diperlukan berbagai proses secara sistimatik. Proses tersebut dapat dilakukan secara sistematik baik melalui proses pendidikan dan pelatihan yang terstruktur maupun dengan proses akuisisi pengalaman kerja dan teknis dengan ikut aktif berada dan berbuat serta beraktivitas sebagaimana layaknya para wirausaha di tempat kerja.
Persiapan yang terkait dengan hal ini meliputi, antara lain:

1)      Persiapan diri pribadi baik secara fisik, mental dan spiritual.

2)      Persiapan pengembangan pengetahuan dan ketrampilan:

a)      Ketrampilan umum:

(1)    Ketrampilan teknis.

Ketrampilan teknis (technical skills) melibatkan kemampuan untuk mempergunakan pengetahuan khusus dan teknis di dalam berbagai bidang seperti teknik rekayasa, keuangan, akuntansi dan pemasaran.
(2)    Ketrampilan interpersonal.

Seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan untuk bekerja sebagai sebuah tim. Dia harus sadar bahwa tidak semua tugas dapat dikerjakan dan dikelola oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu dia harus menyiapkan dirinya untuk memahami preferensi (kemauan utama) dan perasaan pihak lain. Dia harus mempunyai kemampuan untuk memotivasi para karyawan dan bawahannya dengan memberikan empati kepada mereka.
(3)    Ketrampilan konsepsional.

Ketrampilan konsepsional (conceptual skills) berkaitan dengan kemampuan seorang wirausaha untuk menjadi lebih konsisten dan mengintegrasikan semua kegiatan bisnis untuk mencapai aspirasi utama perusahaan (the company’s major aspiration). Conceptual skills, bersamaan dengan ketrampilan sumber daya manusia (SDM) dan ketrampilan teknis merupakan bahan (ingredient) yang sangat penting untuk memastikan sebuah bisnis itu berhasil (an important ingredient in ensuring a business is successful).
b)      Ketrampilan khusus:

(1)    Ketrampilan produksi untuk membuat barang dan/atau jasa.

(2)    Ketrampilan pemasaran dan memasarkan.

(3)    Ketrampilan menghitung potensi pasar, prospek bisnis, biaya, dan keuntungan.
3)      Mengembangkan personalitas seorang wirausaha.

Sifat personalitas wirausaha yang harus dibangun antara lain:

a)      Keyakinan pribadi terhadap dirinya sendiri.

b)      Kemauan dan keberanian mengambil risiko.

Personalitas ‘A’ yang berintikan kemauan kerja keras, ‘rakus’ (greedy), agresif, bersifat berbuat atau bertindak munurut kata hati (impulsively) walaupun tidak serta merata berhasil melakukan sesuatu, serta bergairah untuk melakukan satu, dua atau tiga hal atau tugas sekaligus karena tidak mau kehilangan kesempatan dan waktu. Dalam banyak sering disebut ‘orang tidak sabaran’ (impatient) di dalam melakukan sesuatu karena mereka hanya tertarik akan hasil akhir yang harus dicapai. Personalitas ‘B’ adalah tipe personalitas yang lebih rileks, santai dan tidak kompetitif. Tipe ini sangat tertarik untuk berhubungan dan membangun hubungan sebanyak mungkin dengan pihak lain tanpa melihat ada manfaat atau tidak.

4)      Mengembangkan strategi kreatif.

a)      Membentuk dan membuat diri yang memiliki karakteristik wirausaha yang berhasil.
b)      Memahami konsep kreativitas.

c)      Mengembangkan kreativitas diri dan organisasi.

d)      Kemampuan membuat dan menjawab pertanyaan: bagaimana mengembangkan kreativitas ?.
5)      Tempat kontrol (locus of control): di mana keberhasilan dapat ditentukan oleh baik yang datang dari internal diri sendiri dan dari eksternal dari pihal lain, di luar kemampuan diri sendiri.

b.  Melakukan persiapan strategis memulai sebuah bisnis.

1)      Melakukan perencanaan kegiatan kewirausahaan.

2)      Mengidentifikasi pasar.

3)      Menentukan strategi harga.

          4)  Menentukan strategi pasar.
5)      Menyiapkan dan mengembangkan SDM yang terampil.

6)      Merancang biaya proyek atau kegiatan usaha yang diinginkan.

c.       Persiapan teknis untuk pengembangan ketrampilan diri seorang wirausaha pemula:
1)      Memantapkan perhatian, pemikiran, emosi dan konsentrasi secara focus / secara utuh untuk menjadikan dirinya layaknya sebagai seorang wirausaha yang professional.

2)      Memahami dan mengabsorsi cerita-cerita pengalaman wirausaha yang berhasil.
3)      Membentuk kemampuan dan ketrampilan (ability and skill formation) baik dari aspek teknis, kemanusiaan dan konseptional seorang calon wirausaha.
4)      On job training, melakukan tugas dan pekerjaan secara teknis tentang kegiatan yang ada di dalam perusahaan yang ditempati sementara.
5)      Magang, penempatan diri calon wirausaha di tempat kerja yang telah mapan dan berhasil.
d.       Kesimpulan

Berprofesi sebagai wirausaha adalah sebuah pilihan untuk hidup dan pilihan

profesi yang terhormat yang harus direncanakan secara baik dan matang. Wirausaha adalah sebuah jalan kehidupan yang dipilih karena telah diyakini dengan kenyataan dan fakta yang ada bahwa wirausaha mempunyai peran yang besar di dalam meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan Negara. Di samping itu wirausaha juga merupakan salah satu faktor yang penting dan menentukan untuk dapat menjadikan masyarakat dan Negara yang makmur. Oleh karenanya wirausaha adalah sebuah profesi yang dalam proses penciptaannya, pertumbuhan dan perkembangannya harus dibentuk dengan cara yang sistematik. Karena yang akan dibentuk adalah karakteristik dan jenis sosok manusia yang harus berhasil di dalam tugasnya untuk menciptakan dan mengembangkan organisasi dan bisnisnya. Karena keberhasilannya, maka adalah wajar untuk mengkaji dan mendalami apa sebenarnya yang membuat seorang wirausaha itu berhasil. Keberhasilan wirausaha tersebut merupakan salah satu sebab utama mengapa nilai-nilai, semangat dan jiwa kewirausahaan harus disebarluaskan ke berbagai profesi yang lain.

Komentar

Postingan Populer